MAJAPAHIT KEDATON WETAN




Negeri ini adalah negeri yang sangat jelas kaitannya dengan sejarah masa jauh kerajaan di Jawa. Dan merupakan salah satu sendi dari ambisi besar raja Wisnu Wardhana dalam mewujudkan doktrinnya  CAKRAWALA MANGGALA JAWA atau kesatuan Jawadwipa.  Raja Wisnu Wardhana (abad ke XIII) mengangkat delapan Narariya  atau raja bawahan[1] , dan salah satunya adalah Narariya KIRANA di Lamajang. Doktrin ini ternyata memberi arti yang sangat besar semangat Singosari. Dibawah raja Kertannegara ,Singosari tidak saja menguasai pulau jawa, tetapi malah ,meluas sampai tanah Melayu.Sayang , ambisi yang besar memperluas kerajaan, rupanya memperlemah kedudukan didalam negeri,sehingga negeri ini  dapat ditundukkan Jayakatwang dari kerajaan Gelang Gelang (Kediri).

Ketika putra Kertanegara , R.Wijaya berusaha merebut kembali Singosari dari Jayakatwang dan tentara Tartar , maka R.Wijaya memohon bantuan Arya Wiraraja , seorang adipati Lamajang yg dipindahkan ke Madura, karena sarannya agar raja Kertanegara tidak mengosongkan Singasari ( semua prajurit dikerahkan menyerbu Pamalayu ), karena ada musuh dalam selimut yaitu Jayakatwang.

Seperti tercantum dalam Prasasti  Gunung Butak,  (1294), menyebutkan adanya perjanjian antara Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit dengan Arya Wiraraja yang telah banyak membantu dalam perintisan dan pembentukan kerajaan Majapahit bahwa “pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat sebagian.” Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan sebagai  atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan, dan Tigang Juru . Arya Wiraraja kemudian diangkat secara resmi sebagai adipati Nararya[2] .  Maka Lamajang menjadi Majapahit Kedaton Wetan dan  pusat  disebut Majapahit Kedaton  Kulon. Kedua bagian Majapahit memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Dan sejarah Majapahit ditentukan oleh hubungan  dua bagian ini. Ketika kedua sanak kadang ini bersatu maka Majapahit mencapai kejayaan , dan ketika terbelah maka suramlah Majapahit. Sejarahwan telah banyak mencatat tentang Majapahit Kedaton Kulon, tetapi sedikit sekali yang menulis tentang Majapahit Kedaton Wetan. Syukurlah karena pada akhir akhir ini  perhatian pada Majapahit Kedaton Wetan  mulai ada.

Majapahit Kedaton Wetan  memiliki banyak keistimewaan maka pantaslah  negeri ini mempunyai banyak julukan.Inilah julukan julukan itu.

1.Balumbung……Negeri Yang makmur.

Majapahit Kedaton Wetan  ternyata tumbuh menjadi negeri yang subur dan makmur, dan menjadi lumbung pangan Majapahit. Tampilnya Majapahit Kedaton Wetan   sebagai lumbung pangan membuat  Mpu Prapanca dalam Kakawin Nagarakretagama , menyebut negeri ini sebagai Balumbun.

Pira teki lawas nira patukanan…..Para mantri ri Bali ri Madura ri Balumbun andalan ika karuhun …..sayawaksiti wetanumark apuphul……[2]

Selama beliau (Prabu Hayamwuruk) hadir di Patukangan…..para menteri dari Bali dari Madura dari Balumbun merupakan andalan Baginda….Dimana seluruh daerah timur berkumpul)

Kata  Balumbun dalam tulisan itu  merujuk pada kata Palumbungan yang mengandung arti ‘tempat lumbung’ atau gudang Logistik Majapahit,  yang kemudian menjadi lebih dikenal dengan  Blambangan.[3]

2.NEGERI Arya.

Negeri ini dicatat sebagai kerajaan Hindu  yang kuat karena  gunung yang disucikan oleh penganut Hindu terletak  di kawasan ini yaitu G. Semeru,seperti dikemukakan Prof DR Drs I.Ketut Riana S.U dalam larasan Negara Kertagama :

Kemuliaan Beliau ( Prabu Hayamwuruk) disejajarkan dengan Sang Hyang Adhi Guru , diyakini bersemayam di puncak gunung Semeru , yang dianggap dewanya semua dewa serta amat gaib dialam ini ,bahkan menguasai alam jagat raya. (31).[4]

Keberadaan Gunung yang disucikan itu didaerah ini juga menunjukan adanya ras yang dihormati oleh orang Hindu ditempat ini . Oleh karena itu, ketika prabu Hayamwuruk mendapat putra tunggal dari selirnya di Blambangan, maka putra tunggalnya ini didudukan sebagai adipati Blambangan yang dikenal dalam sejarah sebagai Bhree Wirabhumi/Menakjinggo.Dengan demikian ,sejak masa Bhree Wirabhumi maka yang memerintah Blambangan adalah wangsa Sanggramawijaya ( keturunan dari R.Wijaya), yaitu wangsa yang berasal dari keturunan Ken Dedes dan Ken Arok ( wangsa Isyana) , dan apabila dilacak jauh ke abad ke tujuh , maka inilah darah Arya yang mendirikan candi Prambanan, seperti terebut dalam kutipan dibawah ini.

 ……Jenggala dan Kahuripan Singosari sebagai tlatah  Prabu Dandang Gendis ,yang konon anak sulung dari prabu Gathayu dari Prambanan ( Jawa tengah) [5]
 Tentang orang orang asing di Java bhumi( pada abad ke tujuh pada masa Sanjaya membangun Prambanan) , periksa prasasti Kaladi (909) selain orang Kling Drawida , dari India terdapat juga  ARYA[6]
Maka wajarlah Hayamwuruk raja Agung Majapahit, sebagai seorang Arya ,  yang diagungkan  sebagai Syiwa di bumi sangat menjaga darah Aryanya , oleh karena itu Bhree Wirabhumi  disandingkan  dengan  putri yang cantik jelita yaitu Sang Sri Nagara Wardhani yaitu putri Bhree Lasem ( adik kandung Prabu Hayamwuruk) yang bersuamikan seorang Adipati Manahun, bangsawan  yang  tampan ,pemberani, ahli dalam politik.

Mpu Prapanca dalam Nagara Krtagama mengungkapkan.

Bait 14.Tentang  mertua Bhree Wirabhumi
Ipar Baginda Raja semua telah bertahta menjadi raja,

Raja Matahun suami Rani Lasem ( adik Prabu Hayamwuruk) seorang pemberani

Baginda Sri Rajasa Wardhana terkenal tampan, mahir dalam politik

Bagaikan Smara Pinggala , pernikahan Baginda terpuji dalam negeri

Bait 16. Tentang Bhree Wirabhumi dan permaisurinya.
Adapun putra Baginda Raja yang bertahta di Wira Bhumi

Sang Sri Nagara Wardhani (putri Bhre Lasem , permaisuri Bhree Wirabhumi)) seorang maharani molek tak bertara .

(untuk lebih jelasnya lihat Geneologi KERTHA RAJASA, hal 73)

Sebagai Arya juga terbukti pada teguhnya keyakinan pada agama Hindu  ketika Blambangan mencapai puncak kejayaan dibawah prabu Tawangalun abad ke 17 . Pada saat beliau wafat  dan diperabukan sebanyak 270 istrinya dari jumlah 400 orang mengikuti upacara Sati. Sehingga menurut DR Sri Margana  merupakan Sati   terbesar  sepanjang sejarah kerajaan Hindu di Indonesia

Untuk menjaga kesinambungan keyakinan ini, maka tidak heran para leluhur wong Blambangan mewariskan legenda Sri Tanjung dan Pangeran Sidopekso , dan adat istiadat upacara Kebo Kebo an.

Oleh karena itu legenda tersebut seharusnya difahami tidak hanya cerita tentang terjadinya kota Banyuwangi, tetapi  sebagai pesan leluhur Blambangan bahwa wong Blambangan memiliki hubungan darah dengan kerajaan Hindu  Singosari, karena legenda Sri Tanjung tersebut terukir pada dinding bagian tenggara Candi Surosowo  di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Juga adat Kebo kebo an yang pada  sekitar sebelum tahun 50an berlaku luas di daerah segi tiga emas ( Golden Triangle ibukota terakhir Blambangan, Bayu, Macan Putih, Kota Lateng) serta adanya patung kebo dibeberapa daerah ( Watukebo, Aliyan) menjadi bukti bahwa masyarakat Blambangan di Banyuwangi sangat menghormati lambang kebesaran kerajaan BLAMBANGAN yang selalu muncul dalam arakarakan persembahan pada Istana Majapahit  seperti tersebut pada Negara Krtagama

Tanda tanda kebesaran ;bait 71.

Baginda Raja Matahun mempersembahkan arca lembu putih seperti Nandini

Lembu itu mengeluarkan uang dan makanan dari mulutnya tak putus putus sangat mengagumkan.

Fakta bahwa ,  negeri ini   menjadi tempat  gunung yang disucikan oleh ummat Hindu  ( Gunung Semeru) , keteguhan dalam memelihara wangsa  Sanggramawijaya,  penghormatan kepada kebo/sapi , dan loyalitas mutlak pada satu pimpinan( Lihat uraian Nagari Tawon Madu),serta  keteguhan memelihara adat istiadat  inilah yang meyakinkan penulis bahwa  wong  Blambangan memiliki hubungan dengan para pendiri Prambanan yaitu wangsa  Sanjaya  atau  arya.

3.Bala  bang …..Negeri Para Pemberani

Dalam pupuh 28, bait 1, Balumbun juga disebutkan sebagai andalan Baginda, setara dengan Bali dan Madura.

Sebagai negeri andalan  , Majapahit Kedaton Wetan  selain dikenal sebagai lumbung pangan juga dikenal sebagai negeri para pemberani. Keberanian prajurit Majapahit Kedaton Wetan terbukti sejak masa berdirinya Majapahit ,baik pada saat merebut Singhasari dari Jayakatwang  maupun  pada saat menghancurkan pasukan KUBILAI KHAN sampai saat terakhir yaitu perang PUPUTAN Bayu sehingga menjadikan Blambangan kerajaan terakhir di Jawa yang ditaklukan oleh Kompeni,

.Inilah beberapa kutipan  Jiwa Prawira wong Blambangan

Thomas  Stanford Raffles mengutip pernyataan Sultan Agung bahwa , masih ada dua kerajaan yang paling berbahaya belum terkalahkan yaitu Sumedang dan Blambangan.Pernyataan Sultan Agung mengisyaratkan bahwa usaha menaklukan Blambangan yang dilakukan pada tahun 1639 M, belum berhasil, meskipun Sultan Agung mengerahkan 30.000 prajurit untuk menggempur Blambangan.[7]
 Cortesao, seperti yang dikutip oleh Herusantosa (1987:13), dengan merujuk pada Tome Pires, menyebut “rakyat Blambangan sebagai rakyat yang mempunyai sifat “warlike”, suka berperang dan selalu siap tempur, selalu ingin dan berusaha membebaskan wilayahnya dari kekuasaan pihak lain”.[8]
Scholte (1927:146) menyatakan: “Sejarah Blambangan sangat menyedihkan. Suku bangsa Blambangan terus berkurang karena terbunuh oleh kekuatan-kekuatan yang berturut-turut melanda daerah tersebut, seperti kekuatan Mataram, Bali, Bugis dan Makassar, para perampok Cina, dan akhirnya VOC. Tetapi semangat rakyat Blambangan tidak pernah sama sekali padam, dan keturunannya yang ada sekarang merupakan suku bangsa yang gagah fisiknya dan kepribadian serta berkembang dengan pesat, berpegang teguh pada adat-istiadat, tetapi juga mudah menerima peradaban baru”.
Prajurit Blambangan kemudian dipercaya tangguh dan sakti sehingga tidak terkalahkan. Bahkan, menurut sejarawan DR Sri Margana, mitos yang berkembang di Mataram saat itu (abad ke 15 sampai abad ke 19) : prajurit Blambangan kebal terhadap senjata, sehingga dijadikan ajang uji coba senjata-senjata baru yang dibuat Mataram, baik keris maupun tombak. Jika mampu membunuh orang Blambangan,maka  senjata itu dianggap sakti dan layak dipakai perang oleh Mataram. Menurut sejarawan dari Universitas Gadjah Mada ini, fakta yang diperoleh dari hasil penelitiannya adalah prajurit Blambangan tangguh karena lebih menguasai medan peperangan. Mereka berperang secara gerilya: menyerang mendadak kemudian bersembunyi, serta membuat perangkap dan jebakan di jalan-jalan dan di atas pohon. “Musuh sering diarahkan ke suatu tempat di mana perangkap-perangkap telah disiapkan,” ujarnya. [9]
Prabu Tawangalun , raja Kerajaan Blambangan , juga menetapkan persyaratan kepemimpinan yang sangat ketat dalam memilih pimpinan  Blambangan . Syarat syarat  yang ditetapkan oleh Prabu Tawangalun adalah.KALOKA (Memiliki Visi), PRAWIRA . WIBAWA. BAHASA( menguasai bahasa perdagangan).[10]
Perang Wong Agung Wilis, yang kemudian dilanjutkan  Pangeran Jagapati dalam perang yang sangat terkenal itu( 1767 sampai dengan 1774), dan diakhiri dengan bunuh diri massal ( PUPUTAN BAYU).
DR.Sri Margana dalam tulisannya  Melukis Tiga Roh.Stigmasi dan Kebangkitan Historiografi Lokal di Banyuwangi. Konferensi Nasional Sejarah  IX. Hotel Bidakara Jakarta 5sd7 Juli 2011. Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata,mengungkapkan bahwa Tan Boen Swie dalam tulisan berjudul Digdaya, di majalah Penghidoepan bahwa Tiyang Pinggir yang dikenal sangat digdaya yang berada di Surakarta dan Yogyakarta  adalah prajurit Blambangan yang ditawan oleh keraton Surakarta dalam penyerbuannya ke Blambangan.
Mengingat orang orang ini sangat Digdaya ( sakti), dan pandai berperang dalam perkembangan lebih lanjut , dibentuklah Prajurit Blambangan di keraton Surakarta.

Pada tahun 1755, ketika perjanjian Giyanti ditanda tangani , maka Prajurit Blambangan di bagi dua. Sebagian untuk Keraton Srakarta , sebagian Keraton Yogjakarta.

Pasukan ini dibubarkan pada zaman Pakubuwono ke III. Tetapi dihidupkan kembali pada Pakubuwono ke 4. (1788 sd 1820). Dibawah wewenang Mangkubumi II, dan diberi tanah pardikan 100 bau.Setelah itu Prajurit Blambangan ditransformasi menjadi Prajurit Surasentana dan Jaya Sentana..

4.BARANGBRANGAN ….Negeri Penyeberangan

Data teksual dalam babad Buleleng menyebut negeri ini sebagai negeri   “Barangbrangan” (=tempat penyeberangan) [11]

Majapahit Kedaton Wetan  patut disebut negeri penyeberangan , karena tidak hanya tempat menyeberang dari jawa  ke Bali, tetapi karena pada abad ke 14 telah memiliki  pelabuhan Panarukan  yang dikenal luas oleh pelaut dan pedagang Nusantara, China, Portugal   dan pada abad ke 17 memiliki pelabuhan Ulupampang yang dikenal luas  oleh pelaut dan pedagang Nusantara, China, Belanda dan Inggris ( The Great Britain ).

Drs I Wayan Sudjana dalam Negeri Tawon Madu mengungkap  tentang kedua pelabuhan kerajaan Blambangan sebagai berikut;                                                                                          Tentang Panarukan.                                                                                                                               Jonno de Barros, Decada IV,buku I,bab 7 (Portugies). Yang menulis bahwa pada bulan Juli 1528, Don Garcia Henriquez, tampaknya berlabuh di pelabuhan Peneruca /Panarukan untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dan nampaknya raja Panarukan mengirim dutanya pada Gubernur Portugies di Malaka.Tentang Peneruca dikemukakan bahwa sejak tahun 1526 telah dikunjungi 20 buah kapal Portugis untuk membeli perbekalan.Kerajaan Blambangan dianggap netral karena merupakan kerajaan Hindu, sedang kerajaan di Jawa adalah kerajaaan Islam , dan Portugis sedang berperang dengan kerajaan Islam ( Negeri Tawon Madu .22)

Tentang Ulupampang.                                                                                                             Disamping daerah yang sangat luas kerajaan Blambangan juga memiliki pelabuhan Ulupampang /Muncar yang sangat ramai. Export Blambangan meliputi sarang burung, beras, dan hasil hutan. Sejak tahun 1600 Pelabuhan Ulupampang setiap tahun mengexport sarang burung seharga  empat ribu found sterling, 1 ton bahan lilin, dan 600 ton beras, dan hasil hutan lainnya. Ulupampang  dipenuhi perahu besar milik kerajaan, perahu besar bangsa China, dan Bugis.  Selain perahu tersebut, pelabuhan Ulupampang , setiap setengah tahun disinggahi kapal Inggris yang berlayar ke Australia untuk membeli perbekalan sejak tahun 1696. Tercatat yang mengunjungi Ulupampang adalah Francis Drake , dengan membawa kapal The Paca  berbobot 70 ton, dan The Swan berbobot 50 ton.Juga Thomas Candish telah tinggal selama dua minggu di Ulupampang , dengan membawa kapal “Pretty” dan” Wilhems (24.61)

5.Negeri Tawon Madu.

Drs, I Made Sudjana M.A  menyebut Belambangan  sebagai nagari Tawon Madu karena ibukota Belambangan  menjadi simbol  kekuasaan yang menentukan pasang surutnya  eksistensi  Belambangan.Kerajaan Belambangan dapat bertahan selama lebih kurang  500 tahun  karena ditunjang oleh satu faktor utama , yakni keberhasilan para pewaris tahta Belambangan  dalam mempertahankan negeri seperti konsep tawon Madu, dimana semua, lapisan masyarakat , tentara, tunduk pada ratu Tawon. Hanya ada satu penguasa tunggal dalam satu kerajaan( PATRONS CLIENT).Tidak seperti pada Kerajaan lain yang apabila terjadi conflict ,kemudian terbelah, menjadi kerajaan kerajaan  yang lebih kecil, kemudian para penguasa saling berebut untuk menaklukan bagian kerajaan lainnya,pada kerajaan Blambangan hal itu tidak terjadi.Pihak yang menang akan meninggalkan ibukota lama dan membangun ibukota baru. Oleh karena itu Nagari (Ibukota ) kerajaan Blambangan telah pindah enam kali ,yaitu Lumajang, Panarukan, Kedawung, Bayu ,Macan Putih, dan Kota Lateng   (Negeri Tawon Madu  penerbit  Sulanjari -  Larasan Sejarah 2001).

Apa yang dikemukakan oleh Drs I Made Sudjana M.A , memperkuat dugaan bahwa ada kaitan Blambangan dengan wangsa Sanjaya , di abad ke  7.

Inilah bentuk kerajaan Hindu sejak zaman Sanjaya pada abad ke tujuh ….karena raja  dianggap sebagai penjelmaan dewa dan kepadanyalah kesejahteraan negara dan rakyatnya tergantung sepanjang massa. Kepercayaan macam ini tidak berubah ketika agama  Budha  makin besar pengaruhnya , apalagi ketika para raja yang memeluk hindu  Hindu kembali berkuasa.( Nagabhumi , Seno Gumira Ajidarma, Gramedia. 2009.117)



6.Lambang……Negeri Banyak Lambang

Konon kata Belambangan berasal dari kata  Lambang. Belambangan berarti mempunyai banyak lambang atau tempat lambang (Prof DR. Ayu Santosa . Kamus Budaya dan Religi Using.36) . Hanya  sayang Prof DR Ayu Santosa , tidak menjelaskan lebih jauh.

7.Negeri Menak

Seperti dikemukakan diatas ,bahwa Blambangan adalah kerajaan Hindu, dan raja dari negeri ini , memiliki keyakinan Hindu yang amat kuat.Tetapi anehnya raja  di Blambangan juga  mendapat gelaran Menak.  Bhree Wirabhumi mendapat gelaran Menak Jinggo. Putra Bhree Wirabhumi , Bhree Pakembangan mendapat gelar Menak Dadali Putih atau Menak Sembuyu, Prabu Tawangalun mendapat gelaran Menak Kedawung. Padahal gelar Menak dalam Serat Menak ( Betal Jemur, Menak Jambimambar) , adalah gelaran yang diberikan pujangga Islam Jawa pada raja raja Islam (contoh  Menak jayengrono). Dalam pelacakan penulis ternyata Gelar Menak tersebut didapat karena penghormatan para Sunan ( Wali sanga ) terhadap leluhur Sunan Giri.

Pemberian gelar ini dalam Babad Wali Sanga ternyata tidak terlepas dari pengaruh Sunan Giri. Beliau adalah buyut Bhree Wirabhumi. Ini dapat diartikan bahwa meskipun Blambangan kerajaan Hindu  raja rajanya sangat dihormati oleh para wali . Gelar Menakjinggo berati Raja Agung. Karena warna merah pada masa itu adalah warna kebesaran. Bendera Majapahit berwarna Merah Putih. Maka menjadi pertanyaan besar mengapa gelar Menak Jinggo berubah menjadi bangsawan yang culas.
Sejarawan UGM Yogyakarta Dr. Sri Margana dalam wawancaranya di Majalah Tempo (edisi 13 September 2010) mengemukakan, bahwa cerita tentang Damarwulan vs Menakjingga ini merupakan Sinisme dan delegimitasi terhadap Raja Blambangan

Cerita Damarwulan vs Menakjingga ini ditulis dalam Serat Kanda atau Serat Damarwulan oleh sastrawan dari keraton Surakarta dan dipentaskan dalam bentuk Langendrian oleh Mangkunegara IV (1853 sd 1881). Cerita ini Kemudian dipopulerkan di penguasa Banyuwangi yang diangkat oleh Belanda.(antek Belanda)

Apabila dikaitkan dengan  buku Serat Darmagandul yang terbit tahun 1830 dari penulis ( Kalamwadi, nama samaran),yang menulis sinisme terhadap  Islam , maka sebenarnya serat Kanda juga menyiratkan adanya sinisme Belanda  kepada Islam karena ketakutan akan bangkitnya kekuatan melawan Belanda karena adanya  pengaruh perang besar yang timbul di Jawa yaitu perang Diponegoro 1825 sampai dengan 1830, dapat menyulut kebangkitan rakyat Jawa Timur maupun Blambangan melawan Belanda.

Dan ternyata cerita Damarwulan Menakjinggo tidak dikenal di luar Banyuwangi  seperti di Bali, maupun pesisir pantai utara Jawa.[12], ini berarti kampanye delegimitasi dan sinisme tersebut tidak berpengaruh pada orang luar Banyuwangi.

8. Negeri para Wali/Negeri Perdamaian.

Negeri ini menjadi monumental karena dalam sejarah perkembangan Islam negeri ini berkaitan langsung dengan  para wali ( seorang ulama yang mempunyai kedudukan tinggi dalam keyakinan ummat muslim Jawa/Nusantara karena tingginya  ilmu keagamaan dan ilmu tentang peradaban.                                                                                                  Para wali tersebut  adalah Syaich Wali LanangMaulana /, Sunan Giri , Sunan Kalijaga .

Syaich Wali Lanang Maulana Iskak /Syaich Sidik/putra Syaich Jamaludin Qubro,guru dari para sunan /Walisanga   beliau adalah keturunan Rasulullah yang  mempersunting putri kerajaan Blambangan Sekar Dalu/Sekar Dadu/ Dewi Kasihan   putri Bhre Daha/Bhree Pakembangan/Menak Dadali Petak/Menak Sembuyu .( Babad Blambangan( versi Gancar), Babad Walisanga,, terdapat juga dalam epitaf ( Prasasti pendek pada nisan ) dari batu berangka tahun 1232(1310M) yang terdapat dalam situs Troloyo Mojokerto . ( Seminar Hari jadi Banyuwangi  14).Peranannya adalah mencegah pertempuran antara kerajaan Islam dan kerajaan Blambangan, dan mengantarkan penyebaran Islam dengan damai di kerajaan Blambangan.

        Sunan Giri yang semasa kecil bernama R.Paku/R.Samudara  adalah putra Syaich Wali Lanang dengan putri Blambangan Sekar Dadu. Seorang Wali yang dikenal luas ilmu Agamanya dan Ilmu Kenegaraannya. Peranan dan pengaruhnya sangat luas di Nusantara dan Melayu. DR Purwadi dan Dra Enis Niken  H.M.Hum dalam bukunya  Dakwah Wali Songo mengemukakan sebagai berikut;

Pendiri pesantren pertama sebagai model pendidikan Islam
Pemimpin Peralihan pada masa Majapapahit  ke Demak, King Maker Sultan di Nusantara,
Pemimpin Para Wali  setelah Sunan Ampel mangkat.
Paus Nusantara dan Tanah Melayu, karena hanya dengan persetujuannya raja Islam diakui oleh kerajaan Islam lainnya.
Pendamai antara Mataram dan Penguasa Jawa Timur, Pendamai antara raja Hindu dan Islam.
Pengaruhnya pada perkembangan Islam di Blambangan sangat besar,penghormatan SunanGiri terhadap leluhurnya di Blambangan dan penghormatan raja Blambangan terhadap Sunan Giri, memungkinkan Islam berkembang dengan baik di Blambangan yang beragama Hindu, sebuah simbiose mutualistis yang indah sekali ,dan terpelihara sampai saat ini
Sunan Kalijaga, adalah seorang Wali yang menguasai ilmu agama dan peradaban Jawa, beliau menjadi utusan para wali untuk menghadap Prabu Brawijaya yang mengungsi ke Blambangan.Beliau berhasil meyakinkan Prabu Brawijaya bahwa Islam akan menghormati Prabu Brawijaya sebagai raja Majapahit. (SERAT Darmagandul, Ki Kalamwadi 1830). Blambangan menjadi tanah perdamaian antara Hindu dan Islam.

9. Negeri di Jawa paling akhir dikuasai Belanda.

Para penulis sejarah Indonesia/ Jawa  boleh saja menulis bahwa Indonesia/Jawa  telah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun ( sejak 1662, ) tetapi itu hal  hanya mithos untuk rakyat Majapahit Kedaton Wetan., karena VOC baru dapat menundukan Majapahit Kedaton Wetan pada tahun 1771.

Kerajaan Blambangan yang merupakan lumbung /pusat perbekalan Majapahit dan negeri para pemberani ini baru dapat ditaklukan sepenuhnya pada tahun 1774.

DR. Sri Margana menyatakan bahwa Blambangan yang sangat menentang dominasi asing itu, hanya bisa dikalahkan oleh VOC, setelah  VOC yang melakukan politik ‘devida et impera’ itu berhasil merangkul kerajaan Mataram untuk bersama-sama menaklukkan kerajaanBlambangan.[13]
Dan untuk penaklukan Blambangan VOC harus mengeluarkan dana setara 80 ton.[14]

10. Negeri Cinta Suci dan Abadi

Dijuluki Negeri Cinta Suci dan Abadi karena Negeri ini penuh dengan hikayat tentang  pengorbanan seorang istri atau ibu yang luar biasa karena  cintanya pada suami dan putranya.

Dewi Sekar Dalu, lebih memilih tetap memelihara kehamilannya dan melahirkan putranya dari pernikahannya dengan Syech Maulana Ishak, meskipun kalangan istana mengancam membunuhnya. Maulana Ishak diusir dari Kerajaan Blambangan sedang dewi Sekar Dalu tetap tinggal di Kerajaan Blambangan Dan dengan kekuatan seorang ibu,lahirlah seorang putra yang dikenal dengan nama R.Paku yang di kemudian hari  menjadi wali nusantara  yaitu Sunan Giri. Pengorbanan nya telah berbuah pada syiar Islam di Nusantara.
Sati terbesar sepanjang sejarah.
DR Sri Margana dalam disertasi Java ‘s Last Frontier : The Struggle for Hegemony of Blambangan menulis sebanyak 270 dari 400 istri Prabu Tawangalun   melakukan SATI (upacara berkabung  agama Hindu dimana istri  menerjunkan diri  ke api NGABEN   RAJA TAWANGALUN). Dan dalam sejarah tercatat sebagai SATI terbesar dalam sejarah Indonesia,malah mungkin sejarah kerajaan Hindu.

Ikut sertanya para istri prabu Tawangalun dalam upacara Sati menunjukkan betapa heibatnya putri putri negeri ini menjaga kesucian cintanya pada prabu Tawangalun.

Legenda Sri Tanjung dan  Sidopekso dan  Dewi Surati dan R.Banterang adalah legenda yang menunjukan betapa putri Blambangan adalah putri yang berhati suci dan berani membuktikan cinta abadinya pada suaminya dengan terjun ke laut Selat Bali, sebagai sumpah bahwa dia tidak pernah berkhianat pada suaminya.
Kematiannya yang menimbulkan bau harum di selat Bali itulah menjadi asal usul nama Banyuwangi.



 [1] Prasasti Mula Malurung (1225), Anwar Hudiyono Kompas 10 Sept 2011.

[2]  (Lekkerkerker, 1923:220Lekkerkerker, 1923:220)

[2] Prof DR Drs I Ketut Riana S.U  NAGARA KRTAGAMA , karya MPU PRAPANCA yang ditulis pada abad ke 14 , KOMPAS 2009, pupuh 28 bait 1

[3] (Pigeaud via Darusuprapto, 1984:12-13)

[4] Prof DR Drs I Ketut Riana S.U  NAGARA KRTAGAMA , karya MPU PRAPANCA yang ditulis pada abad ke 14 , KOMPAS 2009,

[5] Dr Purwadi M.Hum, dan Enis Niken H.M.Hum. DA’WAH WALISONGO Panji Pustaka Yogyakarta 2007.89).

[6] Seperti  ditulis oleh Rahardjo  , Supraptino . Peradaban Jawa: Dinamika Politik, Agama dan Ekonomi, Jawa kuno ,Jakarta, Komunitas Bambu.2002.300.315.

[7] Thomas Stanford Rafless  Hystori of Java  509

[8] Novi Anoegrajekti / Desantara dalam  Wong Using: Sejarah Perlawanan dan Pewaris Menakjinggo

[9] TEMPO 13 September 2010 LASKAR TANGGUH dari Ujung Timur Jawa Ika Ningtyas , Mahbub Djunaidi

[10]  SUMBER BABAD WILIS WINARSIH Aripin  pupuh 1.17:49. Via I Made Sudjana dalam buku Nagari Tawon Madu 37

[11] Worsley, 1972:124;158).

[12] DR Purwadi , Dra Enis Niken H.M Hum , Dakwah Wali Songo ,Shaida Yogjakart.2007.

[13] Ibrahim Isa Alias Bramijn18 Des 2007,22.28:51WIB   Lokhorstkerk, Pieterstraat 1, Leiden

[14]  Ika Ningtyas, Mahbub Djunaidi , Laskar Tangguh dari Ujung Timur  Jawa Majalah Tempo edisi 13 -19 September 2010)

Sumber : http://padangulan.wordpress.com