Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sejarah "endog-endogan" Di Bumi Blambangan Sudah lazim adanya, setiap datangnya bulan Rabiul awwal pada setiap tahunnya selalu disambut dengan meriah dan suka-cita oleh seluruh ummat muslim se-dunia, begitupun juga di indonesia yang tak kalah ramainya dalam menyambut hari bahagia ini, dan perayaan inipun diekspresikan oleh ummat muslim di berbagai tempat dengan berbagai macam bentuk perayaan sesuai dengan adat-istiadat masyarakat setempat. Didaerah padang misalnya perayaan ini dikenal dengan sebutan "tabuik", di daerah bengkulu dan sekitarnya mereka menyambutnya dengan sebutan "taubatan", melangkah ke pulau jawa tepatnya di daerah Jawa- Tengah rakyat setempat merayakannya dengan upacara "sekaten", seperti halnya di depan masjid jami' keraton ngajogjakarta pada setiap malam 12 Rabi'ul awwal ditabuhlah sebuah bedug besar yg mereka namakan "Bedug Nogo Wilogo" juga untuk menyambut hari bahagia tersebut. Berbeda pula dengan upacara perayaan penyambutan maulid nabi di daerah jawa-Timur, (misalnya di daerah Ponorogo) pengajian-pengajian maulid sering kali diikuti dengan hiasan back ground berupa Reog, hal ini untuk menggambarkan bahwa kelahiran Nabi Muhammad saw. Dalam bulan Rabi'ul Awwal bukan hanya ummat manusia saja yang merayakannya, tetapi mereka yang berada di alam lainpun ikut merasakan kemeriahan perayaan ini. Di Daerah Blambangan atau yang kita kenal saat ini dengan sebutan Banyuwangi juga tak kalah meriahnya dengan daerah lain, disinilah satu-satunya ditemukan banyak sekali pohon pisang yang berbuah telur, dan ini tidak akan pernah anda temui kecuali di Banyuwangi, dan anehnya lagi pohon pisang ini hanya berbuah setahun sekali yaitu pada bulan Rabi'ul awwal. Adat istiadat endog-endogan ini disinyalir muncul pertama kali pada pertengahan abad ke-15, tepatnya sekitar tahun 1435 M. Yang menggagas adat endog- endogan seperti ini adalah seorang waliyulloh yang bernama syekh maulana ishak atau yang terkenal dengan sebutan wali lanang, putra syeh jumadil kubro, yang saat ini dimakamkan di daerah Troloyo (Kab. Mojokerto). Kala itu maulana ishak mendapat tugas dan Amanat untuk mengislamkan rakyat di bumi blambangan yang pada saat itu beragamakan Hindu dan dipimpin oleh seorang raja yang bernama Prabu Minak Sembuyu. Dengan berbagai falsafah keagamaan & kebijaksanaan beliau, akhirnya diciptakanlah suatu adat istiadat baru yang bernama "kembang endog" (telur yang dihias dg bunga-bunga) guna menghormati dan merayakan kelahiran nabi pembawa agama pencerah yaitu Islam. Falsafah Telur : dipilihlah telur sebagai lambang perayaan ini karena telur memiliki 3 lapis/ bagian yaitu kulit telur, putih telur, dan kuning telur, yang kemudian digambarkan oleh Maulana Ishak sebagai sebuah Symbol suatu kesatuan antara Iman Islam dan Ihsan. Jika 3 elemen tadi terutama kulitnya terjaga dan terlindungi dengan baik maka agama seorang muslim tidak akan pecah dan amburadul. Lalu mengapa dipilih telur bebek dan bukan telur ayam? Kanjeng Sunan Maulana Ishak bukan berarti asal begitu saja, tetapi beliau tidak memilih telur ayam dan lebih memilih telur bebek adalah dg maksud tertentu yang diantaranya; sebagai manusia muslim setidaknya kita dapatlah mencontoh beberapa perilaku binatang ini yang menggambarkan kebaikan dan menghindari sifat- sifat jelek yang dimiliki oleh ayam betina, diantaranya: a. Ayam betina sebelum bertelur selalu mengeluarkan suara-suara yang keras, nyaring dan selalu berteriak. Hal ini dinilai sebagai sebuah lambang sifat "Riya' ", selalu memamerkan kepada orang lain terhadap rezeki yang dikaruniakan oleh Alloh swt kepadanya. Beda halnya dengan bebek yang selalu bertelur dengan rutin tetapi dia tidak pernah koar-koar kesana kemari untuk memamerkan hartanya. b. Ayam betina ketika bertelur (mendapat rezeki) ia akan selalu menjaga hartanya erat-erat karena takut diminta oleh orang lain, jika ada mahluk lain yang mendekati hartanya ia tidak akan segan-segan untuk melawan, dan hal ini dinilai melambangkan sifat "Bakhil" (pelit). beda lagi dg sifat bebek yang tatkala dikaruniai rezeki (telur) oleh tuhannya ia biarkan begitu saja, bahkan suara bebek "wekwekwekwek..." seakan-akan ingin mengatakan kepada kita "wekwekno.. wekwekno.." (kasihkan saja kasihkan saja). c. Menghindari sifat ayam yang selalu takut akan air, dan ini dinilai sebagai lambang orang yang tidak mau mensucikan diri, serta enggan membasahi wajahnya dengan basuhan air wudhu. d. Menghindari sifat ayam yang selalu susah diatur dan diarahkan, tentunya lain halnya dengan sifat bebek yang menggambarkan persatuan dan kerukunan. Falsafah Bunga : Bunga dipilih oleh Kanjeng Maulana Ishak sebagai unsur utama penghias telur karena bunga dinilai dapat melambangkan keindahan, hiasan bunga yang berwarna-warni akan menambah semakin eloknya hiasan telur. Hal ini menggambarkan bahwa sebuah masyarakat meskipun berbeda- beda adat-istiadatnya serta berbeda suku bangsanya tetapi tetap dapat berkumpul dan bersatu padu dengan baik serta menciptakan suatu kerukunan yang indah seperti bebungaan warna warni yang menghiasi di sekeliling telur. Demikianlah kira- kira asal usul kembang endog di Bumi Blambangan, semoga dengan memeriahkan hari lahir beliau Nabi Muhammad saw kita diikutkan sebagai ummatnya dan mendapatkan syafa'at beliau nanti di hari kiamat. Amin ya robbal alamin..