Banyuwangi Backpackers

Banyuwangi terus meningkatkan kualitasinfrastruktur sektor pariwisata, salah satunya adalah penginapan untuk para pencinta perjalanan dengan budget minim (budget travel).

Hari ini, Sabtu(28/9/2013), Banyuwangi meresmikan fasilitas dormitory untuk backpackers yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Banyuwangi. “Dormitory ini sengaja kami bangun karena sudah semakin banyak wisatawan ke Banyuwangi, termasuk para backpackers. Konsepnya sederhana, hijau dengan banyak tanaman, dan kamar-kamar yang praktis. Cocok untuk tempat istirahat bagi backpackers yang akan menuju atau sudah datang dari Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah, Pantai Sukamade, perkebunan kopi, dan destinasi wisata lainnya,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas seperti siaran yang diterima LICOM, Sabtu (28/09/13) sore WIB.

Tarif penginapan tersebut hanya Rp 50.000 per malam. Kapasitasnya adalah 28 orang. Dormitory tersebut dilengkapi lukisan-lukisan tentang alam dan sejarah Banyuwangi. “Ini adalah dormitory pertama. Kami akan segera membuat dormitory kedua yang lebih besar. Kami juga membina homestay-homestay yang sudah ada di tempat penduduk di sekitar destinasi wisata,” ujarnya. Di depan dormitory baru tersebut sudah tersedia fasilitas penunjang yang memadai. Di depannya akan ada kedai kopi khas Banyuwangi. Tak jauh dari dormitory tersebut juga telah ada taman dan ruang publik dengan fasilitas wifi. “Di seberang juga sudah ada beberapa gerai usaha kecil dan menengah (UKM) penyedia aksesoris, kaos, dan kuliner khas Banyuwangi seperti rujak soto dan nasi tempong,” jelasnya. Anas menambahkan, pembangunan dormitory ini makin melengkapi berbagai infrastruktur pariwisata yang sudah ada di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java tersebut.

Infrastruktur transportasi mulai dari bandara, pelabuhan, kereta api, hingga jalan raya sudah tersedia dengan kondisi sangat baik. Fasilitas hotel juga makin banyak karena ada beberapa hotel baru di Banyuwangi. “Kami juga mendorong pengembangan wisata melalui pariwisata event (event tourism) melalui Banyuwangi Festival yang kami gelar mulai September-Desember 2013. Ada karnaval etnik, festival batik, Tour de Ijen, jazz pantai, sampai festival seni tradisional,” tuturnya. Konsep pengembangan pariwisata yang diusung Banyuwangi adalah ekowisata (ecotourism).

Ekowisata mendapat tempat tersendiri di antara berbagai jenis pariwisata lain, karena dianggap sebagai “win-win solution tourism”. “Sebelum ekowisata ada, pariwisata memang cenderung lebih mengutamakan aspek ekonomi untuk mengeruk laba sebesar- besarnya, sehingga cenderung mengabaikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat sekitar,” jelas alumnus program studi singkat ilmu kepemerintahan di Harvard Kennedy School of Government, Amerika Serikat, tersebut. Indonesia sendiri sangat potensial sebagai destinasi ekowisata. Selain karena flora- faunanya yang beraneka ragam, Indonesia juga kaya budaya. “Demikian pula daerah seperti Banyuwangi yang fokus mengembangkan ekowisata. Argumennya jelas: Banyuwangi mempunyai “Segitiga Emas” dengan kekayaan wisata alam yang luar biasa, yaitu Kawah Ijen, Pantai Sukamade, dan Taman Nasional Alas Purwo.

Perpaduan lengkap antara dataran tinggi, pantai, dan kawasan hutan dengan kekayaan flora dan fauna tak ternilai. Belum lagi potensi budaya masyarakat Using yang luar biasa,” tuturnya. Di Banyuwangi, ekowisata ditekankan dengan menjaga alam sekitar dan memberdayakan masyarakat setempat demi terwujudnya sustainable tourism alias pariwisata berkelanjutan. Dengan konsep itu, lanjut Anas, masyarakat lokal tidak hanya dijadikan sebagai objek turistik belaka, melainkan sebagai “tuan” bagi diri mereka sendiri, wirausahawan, penyedia jasa, dan sekaligus diberdayakan sebagai pekerja. “Masyarakat lokal membuat kerajinan untuk dijadikan cinderamata, memasak kuliner setempat untuk disajikan kepada wisatawan, menyediakan kamar bagi tempat menginap, mengajarkan budaya dan kearifan lokal sekaligus belajar pada wisatawan yang datang tentang hal-hal baru,” pungkas Anas.

Sumber : LENSAINDONESIA.COM